Dakwah lewat tulisan
DAKWAH LEWAT TULISAN
Urgensi Dakwah Lewat Tulisan.
Dalam upaya menyampaikan dakwah, penting untuk
memanfaatkan beragam sarana agar ide yang diusung dapat efektif mencapai obyek
dakwah (mad’u). Sarana tersebut
dapat berupa komunikasi lisan maupun tertulis. keduanya mempunyai potensi yang sama agar
tersampaikan kepada obyek dakwah (mad’u). Kedua hal ini tergantung dari dua
faktor utama, yaitu: pertama, obyek dakwah (mad’u), dan kedua faktor pengemban dakwah. Untuk faktor pertama, harapan untuk
diterimanya dakwah itu bergantung pada ketulusan si obyek dakwah untuk menerima
seruan dakwah, untuk itu obyek dakwah perlu memiliki keterbukaan hati untuk
menerima seruan dakwah. Hal ini dipengaruhi oleh hidayah dan taufik dari Allah
SWT yang merupakan bagian dari wilayah al musayyar, suatu wilayah di
luar kemampuan manusia alias berada pada iradah Alloh. Adapun faktor
kedua tergolong ke dalam wilayah mukhayyar, yang dapat di optimalkan melalui
usaha dan ikhtiar. Contoh wilayah Mukhayyar, kalau seseorang berdakwah
secara lisan, dia bisa memperbaiki retorika ucapannya; di sisi lain, kalau dia berdakwah
lewat tulisan, dia terus memperbaiki konten tulisannya. Dakwah melalui tulisan
sangat diperlukan, khususnya setelah munculnya banyak pemikir barat maupun
timur yang menyerang setiap unsur pemikiran islami melalui tulisan mereka yang
dibungkus dengan sangat indah, namun hakekatnya adalah “racun” yang
menghancurkan pondasi Islam, seperti kapitalisme, sekulerisme, politik
oportunis, dll. Faktor ini membutuhkan komitmen yang kuat dari pengemban dakwah
untuk “mengarungi” dakwah lewat tulisan. Komitmen ini tidak mudah luluh
walaupun di terpa oleh berbagai hujatan atas tulisannya, karena dia mengharapkan
ridho Alloh SWT semata, bukan karena dunia ataupun yang lain. Alloh SWT
berfirman dalam QS Al Alaq 4-5 yang artinya: "(Dialah
Alloh SWT) Yang mengajar (manusia) dengan pena". "Dia mengajarkan
manusia apa yang tidak diketahuinya."
Menulislah karena Alloh.
Komitmen seorang pengemban dakwah dalam bentuk
tulisan kadang terus di uji oleh berbagai dinamika kehidupan dan banyak pembatasan.
Oleh sebab itu kekuatan untuk menulis tidak boleh bergantung kepada kekuatan
materi atau kekuatan moral, namun harus Ikhlas karena Alloh SWT. “setiap amal
tergantung daripada niat”, demikian Rosul SAW bersabda. Niat menulis karena Alloh SWT merupakan
pondasi agar tulisannya kokoh sehingga oleh Alloh SWT akan membantu dengan memberikan
“ilham”. Alhasil, setiap kata dalam tulisannya mampu menggugah kesadaran; baik
kesadaran dirinya, maupun kesadaran orang lain.
Tulisan bagaikan Peluru yang tepat sasaran
Ciri peradaban besar dunia terletak pada besarnya
minat mereka akan tradisi tulis-menulis. Peradaban Romawi dan yunani, maupun
peradaban cina, diakui oleh dunia karena
melahirkan banyak pemikir melalui tulisan, tak terkecuali dengan
peradaban Islam. Perhatian para khalifah sangat tinggi terhadap tradisi tulis
menulis. Sayyid Qutb pernah berkata:”satu
peluru hanya dapat menembus satu kepala, namun satu tulisan dapat menembus
ribuan kepala”. Imam Al Ghazali walaupun sudah wafat beribu tahun yang
lalu, namun beliau seolah-olah hidup di tengah tengah kita berkat tulisannya yang menggugah kesadaran banyak
orang.
Tulisan mampu menawarkan solusi atas
permasalahan Ummat.
Hubungan dunia Islam hari ini dengan kekuatan
barat dan timur selalu memanas, tak terkecuali peristiwa terbaru seperti
pendudukan dan pembantaian Israel atas palestina; atau peristiwa dan keadaan
negeri islam yang lain yang terjajah secara politik, ekonomi, maupun pemikiran.
Hal ini seharusnya menjadi perhatian ummat Islam. Posisi tawar ummat islam
sangat rendah di hadapan ummat yang lain, sehingga menimbulkan perasaan rendah
diri bahkan untuk sekedar menyatakan pendapat pendapat Syar’i mereka atas berbagai
kejadian untuk di selesaikan sesuai dengan pandangan Islam dan Hukum Syari’at.
Dengan kata lain , ummat Islam sudah tidak memiliki hak istimewa lagi atas diri
mereka sendiri; ummat islam telah kehilangan kedaulatan atas diri mereka
sendiri. Rosul Saw telah mengisyaratkan keadaan tersebut. Beliau menyatakan
akan ada satu masa dimana ummat Islam bagaikan hidangan yang akan di kerubuti
dan di lahap dengan rakus oleh serigala-serigala kelaparan (umat dan bangsa
lain). "Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Suatu
masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang
sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan". Kemudian ada
sahabat yang bertanya: "Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah
sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?". Rasulullah Saw
menjawab: "Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian
hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke
mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh
kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati
kalian." Ada sahabat yang bertanya lagi: "Wahai Rasulullah Saw,
apakah wahn itu?" beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut mati."
